Industri pembuatan arang kayu sering sebut sebagai salah satu biang kerok kerusakan hutan, tapi tindakan penghentian kegiatan pembuatan arang kayu yang dilakukan pengusaha kecil atau masyarakat berpendapatan rendah adalah penyelesaian yang terburu-buru dan tidak menunjukkan pemahaman terhadap akar permasalah yang sebenarnya. Pengangguran akibat terhentinya pasokan arang kayu buat banyak industri makanan, pandai besi, pengecoran logam dan sebagainya tidak lebih ringan daripada isu penggundulan hutan dan pemanasan global. Mari kita cermati masalah ini dari sisi yang lebih manusiawi yaitu Pengembangan teknologi konversi energi.
Rasio Perolehan yang Sangat Kecil
Untuk membuat 1 ton arang kayu dengan cara tradisional umumnya diperlukan bahan
Untuk memperoleh 1 kg arang kayu dengan jumlah kalori 7075 kcal di butuhkan 6 kg kayu dengan jumlah kalori 15678 kcal, 15678 – 7075 = 8604 adalah banyaknya energi yang “dibutuhkan” selama proses konversi atau setara dengan 1,03 liter minyak tanah. Itu untuk 1 kg arang kayu, jika sebuah perusahaan memproduksi arang kayu 50 ton per bulan dengan cara tersebut maka energi yang “dikonsumsinya” setara dengan 51.429 liter minyak tanah per bulan.
Jika perusahaan tersebut mengembangkan teknologi produksi arang kayunya hingga memperoleh kinerja 4 ton kayu untuk 1 ton arang atau 8,3% saja dari sebelumnya maka setara dengan penghematan 4114 liter minyak tanah per bulan atau 100 ton kayu bakar. Bisa dibayangkan berapa luas area penebangan yang bisa diselamatkan setiap bulan.
Menurut penelitian di laboratorium rasio konversi arang kayu pada spesies kayu tertentu bisa mencapai 35%, untuk industri arang kayu modern rasio konversi 30% adalah wajar.
Ini PR buat pemerhati hutan dan penggagas renewable energy yang berpihak pada masyarakat kecil mengingat penggunaan arang kayu sebagai pengganti minyak tanah untuk keperluan memasak lebih mudah diterima oleh masyarakat daripada LPG atau biji jarak.